Sektor Telekomunikasi Hadapi Ancaman Siber dan Risiko AI di 2026
Sektor telekomunikasi kini menghadapi tantangan ganda: serangan siber yang terus berkembang dan risiko baru dari penerapan kecerdasan buatan (AI). Operator telekomunikasi perlu mewaspadai kombinasi ancaman klasik dan risiko operasional dari otomatisasi berbasis AI.
Ancaman Siber Klasik Masih Dominan
Menurut buletin keamanan terbaru dari Kaspersky, kampanye Advanced Persistent Threat (APT), kompromi rantai pasokan, dan serangan Distributed Denial of Service (DDoS) masih menjadi ancaman utama bagi operator telekomunikasi.
Intrusi APT
Intrusi APT menargetkan jaringan operator untuk spionase jangka panjang dan penyalahgunaan akses istimewa. Serangan ini sulit dideteksi karena pelaku bersembunyi di dalam sistem dalam waktu lama.
Kerentanan Rantai Pasokan
Kerentanan rantai pasokan menjadi pintu masuk bagi pelaku kejahatan siber. Ekosistem telekomunikasi yang melibatkan banyak vendor dan platform terintegrasi membuat celah kecil pada perangkat lunak atau layanan populer berpotensi berdampak luas.
Serangan DDoS
Serangan DDoS terus membebani ketersediaan dan kapasitas layanan. Bagi operator, ini bukan sekadar isu keamanan, tetapi juga masalah manajemen kapasitas yang berdampak langsung pada kualitas layanan pelanggan.
Risiko Baru dari Otomatisasi AI
Memasuki tahun 2026, risiko operasional dari otomatisasi berbasis AI berpotensi memperluas dampak ancaman jika tidak dikelola dengan kontrol yang memadai. Penggunaan AI dalam manajemen jaringan menjanjikan efisiensi dan kecepatan, namun juga berisiko memperkuat kesalahan konfigurasi jika sistem bertindak berdasarkan data yang tidak akurat atau dimanipulasi.
Kaspersky mengingatkan bahwa keputusan otomatis tanpa kontrol manusia dapat memicu perubahan berskala besar yang "salah secara pasti".
Data Serangan Siber pada Sektor Telekomunikasi
Data dari Kaspersky Security Network periode November 2024 hingga Oktober 2025 menunjukkan bahwa 12,79% pengguna di sektor telekomunikasi menghadapi ancaman online, sementara 20,76% menghadapi ancaman pada perangkat. Selain itu, 9,86% organisasi telekomunikasi secara global tercatat mengalami serangan ransomware dalam periode yang sama.
Tantangan Transisi Teknologi
Selain AI, transisi menuju kriptografi pasca-kuantum juga membawa tantangan tersendiri. Penerapan pendekatan hibrida atau pasca-kuantum yang terburu-buru berpotensi menimbulkan masalah interoperabilitas dan kinerja di lingkungan TI yang kompleks.
Pentingnya Visibilitas Menyeluruh
Leonid Bezvershenko, peneliti keamanan senior di Kaspersky GReAT, menekankan pentingnya visibilitas menyeluruh terhadap ancaman yang dikenal dan risiko yang muncul dari adopsi teknologi baru.
"Ancaman yang mendominasi tahun 2025-kampanye APT, serangan rantai pasokan, dan serangan DDoS-tidak akan hilang. Namun kini ancaman tersebut beririsan dengan risiko operasional dari otomatisasi AI dan teknologi baru," kata Leonid Bezvershenko.
Rekomendasi Strategis dari Kaspersky
Untuk menghadapi lanskap ancaman yang semakin kompleks, Kaspersky merekomendasikan sejumlah langkah strategis:
- Memantau lanskap APT dan infrastruktur yang relevan dengan telekomunikasi secara berkelanjutan.
- Memanfaatkan intelijen ancaman untuk memahami konteks pelaku dan kampanye yang sedang berlangsung.
Implementasi AI Bertahap
Otomatisasi jaringan berbasis AI perlu diterapkan secara bertahap dengan jalur pengembalian yang jelas, serta tetap mempertahankan kontrol manusia untuk tindakan berdampak tinggi. Validasi data yang masuk ke sistem AI juga menjadi kunci agar input palsu tidak memicu perubahan jaringan yang merugikan.
Kesiapan Menghadapi DDoS
Kesiapan menghadapi DDoS perlu diperlakukan sebagai isu manajemen kapasitas, mulai dari mitigasi hulu, perlindungan perutean tepi, hingga pemantauan sinyal lalu lintas yang dapat mengindikasikan serangan sejak dini.
Penerapan Solusi EDR
Penerapan solusi Endpoint Detection and Response (EDR) juga dinilai penting untuk mendeteksi ancaman canggih lebih awal dan mempercepat respons insiden.
Laporan ini menjadi pengingat bahwa tantangan sektor telekomunikasi ke depan bukan hanya soal menghadapi hacker, tetapi juga memastikan teknologi canggih seperti AI tidak berubah menjadi titik lemah baru dalam operasional jaringan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow